Resign dan Covid

Ini kisah resignku. Sudah 2 tahun terakhir aku sudah ingin mengajukan resign. Alasan klasik, 'ruang' kerja yang tidak berkembang | padahal perusahaan cukup berkembang | skill yang tidak bertambah, terjebak dengan waktu kerja 25 jam | You know what I Mean? | kebijakan-kebijakan yang kurasakan tidak cukup adil bagiku.
Angin segar akhirnya berhembus di awal tahun kemaren. Diterima di sebuah perusahaan Global, tentunya jabatan dan pendapatan yang lebih tinggi sudah di depan mata. Softcopy kontrak-pun sudah dikirim via email.
Akhirnya aku bisa ber-euforia karena bisa lepas dari perusahaanku sebelumnya. Sebelum Idul fitri kemaren akhirnya aku terakhir bekerja. Sebagian besar orang disana menyayangkan aku resign. Tapi pikirku itu hanya sekedar basa-basi. Bukan, bukan karena mereka tidak peduli atau bermuka dua. Sepertinya itu menjadi hal biasa ketika seseorang resign. Bersimpati. Mereka ga jahat, hanya saja setiap orang akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Akhirnya aku ditampar kenyataan bahwa perusahaan Global yang merekrutku tiba-tiba hilang contact. Sewajarnya ada rasa kecewa dan kekhawatiran meliputi hati. Serta 'marah' kepada orang-orang yang terlibat di dalam perekrutan.
Tapi jujur, perasaan itu tidak bertahan lama. Bukan aku sok berbesar hati, hanya saja ada sisi hatiku sangat mensyukuri keadaan ini. Hari-hariku diisi dengan omelan mamah. Risih sih. Tapi aku menjadi lebih dekat dengan keluargaku. Aku bisa melihat lebih dekat, tanpa harus terbebani oleh pekerjaan walau menjadi beban keluarga. Hehehehe๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
Setidaknya level PHP-ku sudah naik tingkat. Jika wanita biasa diluar sana di PHP oleh seorang laki-laki, maka aku di PHP sama perusahaan Global | Lumayanlah mengobati hati

Apa aku menyesal Resign? 

Tidak sama sekali, bahkan sekarang aku berpikir kenapa tidak dari dulu. Perusahaanku dulu ga buruk-buruk amat kok. Ada banyak hal yang membuat "bahagia" disana. Hanya aku saja yang tidak mampu meneruskan 'perjuangan'.

Masih marah dengan si perusahaan PHP?

Sudah tidak. Aku rasa malah mereka yang rugi, melepaskan kesempatan mendapatkan karyawan yang loyal dan bertanggung jawab tinggi ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

Btw, aku saat ini sedang menjadi tenaga freelancer di suatu konsultan k3. Mungkin secara finansial tidak seberapa. Tapi baru kali ini aku merasakan "Hobi yang dibayar". Entah kenapa aku sangat menikmati pekerjaanku sekarang. Walaupun aku tetap ingin kembali ke pekerjaan kantoranku.
Setelah aku menyudahi 'marahku', keluargaku terkena wabah covid. Seluruh keluargaku termasuk aku. Aku terpisah sendiri di rumah temanku yang kosong karena paling terakhir positif.
Walaupun seluruhnya bergejala ringan, tapi aku berdoa semoga tidak terkena kembali.
Sama seperti setelah resign, ada hal-hal yang bisa aku nikmati di 'kesendirian'ku. 
Disaat terkena covid, aku dilihatkan dengan orang-orang yang benar-benar peduli, sekedar bersimpati dan orang yang katanya peduli. Setidaknya kali ini aku bisa memfilter banyak hal.
Sekali lagi, aku tau kok mereka ga jahat. Hanya mempunyai prioritasnya masing-masing.

Mengutuk keadaan tidak akan pernah mengubah keadaan

Balikpapan, 27 Juli 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Days Challenge JSR

Menonton Kembali Drama Korea Lawas 49 Days

Berjarak