Postingan

Kecilkan Ekspetasi

 Jangan berekspetasi sama orang lain. InsyaAllah bakal kecewa. Berekspetasilah sama Allah SWT yang pasti selalu punya rencana terbaik untukmu. Entah sudah keberapa kali aku mendengar kata-kata itu. Tapi sayangnya, sesering itu aku mendengar atau membaca. Sesering itu juga aku merasa kecewa dengan ekspetasiku. Yang membuatku merasa lebih bodoh daripada keledai. Settingan kata-kata itu, hanya sampai di otakku saja. Tidak dengan hatiku. Penyakit hati ini belum bisa sembuh dariku. Semoga kelak aku bisa segera sembuh dari sakitku ini. Aamiin

Ah, Ternyata...

Sore ini aku mendapat kabar salah satu sahabat dekatku menikah. Tentu saja aku ikut senang. Tapi beberapa menit kemudian mulai terlintas pertanyaan. "Ya Allah, aku kapan?" Mendadak ada sisi hatiku merasakan sedih. Seperti layaknya auto system, tanganku mulai menari-nari di dunia media sosial. Mencari-cari yang berpotensi menjadi calon suami. Akhirnya aku mendapatkan beberapa list nama. Lalu muncul dua pertanyaan baru.  "Yakin mau sama dia?"  dan  "Emang dia mau sama aku?" Lalu tetiba handphoneku berbunyi tanda pesan masuk.  Ah, ternyata pekerjaanku masih menumpuk. Harus kuselesaikan satu per satu. Tak lama kemudian handphoneku berbunyi lagi. Telepon dari orang rumah yang menanyakan aku pulang. Yang menunggu Lumpia goreng kesukaan mereka. Ah, ternyata aku masih harus bersama keluargaku. Setelah itu, adzan Ashar berkumandang. Tubuhku langsung bergerak mengambil wudhu. Karena sepertinya aku butuh "Me Time" bersama pemilik hati. Ketika aku bercermin

Dijemput

 Aku menemukan sebuah kalimat di story IG temanku. Ia me-capture salah satu postingan di IG. Anak-anak sekarang sekolah via zoom, jadi ga tau rasanya pulang sekolah lama nunggu ga dijemput-jemput bahkan sampe tinggal sendirian semua murid lainnya udah pada pulang. Yang pernah, pasti inget rasanya (dari akun kusumandaru) Tentu aku bukan anak sekolah via zoom. Secara umur sudah memasuki kepala 3. Tapi aku juga tidak ingat rasanya menunggu jemputan jaman sekolah. Karena memang tidak ada yang menjemput. Orang tuaku atau kakakku hanya memperlihatkan jalan ke sekolah satu kali. Setelah itu, aku berangkat dan pulang sekolah sendiri. Dan itu terjadi sejak aku TK. Kebiasaan ini berlaku ke semua anggota keluarga. Keluargaku mengajarkan untuk mandiri sejak kecil. Aku dulu bagaikan Ibnu Batutah versi lebih alias paling minor pastinya. Aku suka menjelajah jalan-jalan yang belum pernah aku lewati. Sebetulnya aku diberi uang untuk naik angkutan umum, tapi seringnya aku memilih untuk jalan kaki. Perta

Aku, yang (katanya) Mencintaimu dalam Diam

Aku, yang katanya mencintaimu dalam diam Ada hari dimana aku ingin sekali menelpon atau mengirimimu pesan Menanyakan kabarmu Bagaimana harimu? Ada cerita apa hari ini? Sudah makan atau belum? Weekend, apa rencanamu? Sayangnya, hanya sebatas ingin. Aku cukup tahu diri setelah penolakan-penolakan halus yang kamu buat. Aku, bukan tempatmu untuk bercerita. Katanya cinta harus mempunyai pembuktian dalam perbuatan. Aku jadi ragu, apakah aku benar-benar mencintaimu? Pernah terpikir olehku, aku ingin sekali menjadi Jo Yi Seo dalam drama Itaewon Class. Yang membersamai bahkan menjadi kunci untuk mewujudkan impian Park Sae Royi. Jo Yi Seo tidak pernah menyerah walaupun sudah menerima penolakan berkali-kali. Tapi aku ke kamu, aku tidak melakukan itu. Aku masih sibuk dengan diriku sendiri. Tidak ada perbuatan yang menjadi pembuktian cintaku. Apa doaku termasuk dalam perbuatan? Yang kadang (bahkan sering) aku lupakan. Karena, Aku masih sibuk dengan diriku sendiri. Aku jadi ragu, apakah benar aku me

Resign dan Covid

Ini kisah resignku. Sudah 2 tahun terakhir aku sudah ingin mengajukan resign. Alasan klasik, 'ruang' kerja yang tidak berkembang | padahal perusahaan cukup berkembang | skill yang tidak bertambah, terjebak dengan waktu kerja 25 jam | You know what I Mean? | kebijakan-kebijakan yang kurasakan tidak cukup adil bagiku. Angin segar akhirnya berhembus di awal tahun kemaren. Diterima di sebuah perusahaan Global, tentunya jabatan dan pendapatan yang lebih tinggi sudah di depan mata. Softcopy kontrak-pun sudah dikirim via email. Akhirnya aku bisa ber-euforia karena bisa lepas dari perusahaanku sebelumnya. Sebelum Idul fitri kemaren akhirnya aku terakhir bekerja. Sebagian besar orang disana menyayangkan aku resign. Tapi pikirku itu hanya sekedar basa-basi. Bukan, bukan karena mereka tidak peduli atau bermuka dua. Sepertinya itu menjadi hal biasa ketika seseorang resign. Bersimpati. Mereka ga jahat, hanya saja setiap orang akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Akhirnya aku ditam

Ramadhan ke-10 Kultum: Kisah Sahabat yang Membuat Rasulullah SAW Menangis

Gambar
 Ramadhan ke-10 Kultum: Kisah Sahabat yang Membuat Rasulullah SAW Menangis Fyi, catatan ini dibuat untuk meresume kegiatan yang aku ikuti di Positivity Ramadhan yang diselenggarakan oleh  @Positivistri Kultum kali ini beriksah tentang kisah sahabat yang membuat Rasulullah SAW menangis. Btw, kisah ini relate banget sih sama kehidupan jaman milenial sekarang. Jadi langsung sajo, cekidot. Al Kisah ada seorang sahabat Rasul bernama Abu Dujanah ra, beliau seorang yang fakir tapi sangat sholeh. Ia termasuk sahabat yang paling rajin, ketika berjamaah bersama Rasulullah SAW, ia akan menyelesaikan ibadah sampai tuntas baru pulang.  Rasulullah SAW adalah seorang yang paling memperhatikan para sahabatnya. Ia menyadari Abu Dujanah ra beberapa hari pulang sebelum selesai berdoa. Padahal doa Rasulullah SAW adalah hal yang paling dinantikan. Lalu akhirnya Rasulullah SAW langsung bertanya kepada Abu Dujanah ra. Apakah ia sudah tidak mempunyai hajat. Seketika sahabatnya itu langsung menangis. Ia mencer

Ramadhan ke-9 Kultum: Menjadi Perempuan Sholehah

Gambar
 Ramadhan ke-9 Kultum: Menjadi Perempuan Sholehah Fyi, catatan ini dibuat untuk meresume kegiatan yang aku ikut di Positivity Ramadhan yang diselenggarakan oleh  @Positivistri Kultum kali ini nampar bener dah. Karena sadar, jau banget dari ciri-ciri perempuan sholehah. Yang baru bisa kulakukan hanya mencoba untuk tidak berlebihan.  Apa antara ikhwan dan akhwat tidak boleh mengobrol? Tentu saja boleh asal tidak berlebihan. Apakah harus memakai hijab atau pembatas? Tidak perlu, dan semua tergantung dengan sikap kita. Jika kita bisa mengontrol sikap kita, tidak perlu memakai hijab. Tapi jika memang tidak bisa mengontrol, maka sebaiknya memakai hijab. Jadi jangan saling men-judge, karena setiap orang punya kontrol dirinya sendiri masing-masing. Disini ga aku pribadi ga terlalu bisa untuk berbicara banyak, karena kembali ke awal yang sudah aku jelaskan. Kata Sholehah masih sangat jauh dariku.  Entah kenapa membahas perempuan sholehah ini aku jadi teringat dua hal, yang pertama ceramah dari