Dijemput

 Aku menemukan sebuah kalimat di story IG temanku. Ia me-capture salah satu postingan di IG.

Anak-anak sekarang sekolah via zoom, jadi ga tau rasanya pulang sekolah lama nunggu ga dijemput-jemput bahkan sampe tinggal sendirian semua murid lainnya udah pada pulang. Yang pernah, pasti inget rasanya (dari akun kusumandaru)

Tentu aku bukan anak sekolah via zoom. Secara umur sudah memasuki kepala 3. Tapi aku juga tidak ingat rasanya menunggu jemputan jaman sekolah. Karena memang tidak ada yang menjemput.
Orang tuaku atau kakakku hanya memperlihatkan jalan ke sekolah satu kali. Setelah itu, aku berangkat dan pulang sekolah sendiri. Dan itu terjadi sejak aku TK. Kebiasaan ini berlaku ke semua anggota keluarga. Keluargaku mengajarkan untuk mandiri sejak kecil.
Aku dulu bagaikan Ibnu Batutah versi lebih alias paling minor pastinya. Aku suka menjelajah jalan-jalan yang belum pernah aku lewati. Sebetulnya aku diberi uang untuk naik angkutan umum, tapi seringnya aku memilih untuk jalan kaki. Pertama karena ingin lebih hemat, jadi uangnya bisa ditabung. Kedua, karena aku suka dengan euforia "Advanture"-nya.
Kebiasaan tidak dijemput akhirnya terbawa hingga sekarang. Aku enggan meminta jemput, kecuali kepada orang yang cukup dekat denganku dan tentunya pada keadaan tertentu. Atau kalau aku sedang malas berkendara, Mamang Gojek selalu setia menjemput.
Kadang pengen juga sih rasanya dijemput sama seseorang yang spesial. Sayangnya, belum ada. 

Balikpapan, 30 Juli 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Days Challenge JSR

Menonton Kembali Drama Korea Lawas 49 Days

Berjarak