Selamat Tinggal karya Tereliye

 Akhirnya aku memulai kembali kegiatan membaca dan menulis. Aku rasa aku tidak akan berjanji untuk rajin-rajin membaca atau menulis kembali. Tapi anggap saja ini menjadi awal yang cukup baik di akhir tahun. Kali ini aku membaca buku Selamat Tinggal karya Tereliye. Karya Tereliye memang selalu menjadi favorit sejak kuliah.

Buku Selamat Tinggal karya Tereliye (sumber gambar: klik disini)


Setelah sekian lama tidak membaca buku sampai tuntas. Sesungguhnya aku tetap membaca, tapi memang banyak buku yang akhirnya tidak terselesaikan. Buku selamat tinggal berisi 350 halaman yang kuselesaikan dalam kurun waktu 4 (empat) hari. Sebenarnya bisa saja aku membacanya semalaman, tapi balik lagi karena hal baru (lagi) yang kulakukan. Butuh effort untuk menyelesaikannya.

Padahal ceritanya menarik. Sungguh menarik. Bercerita tentang Sintong, si Mahasiswa Abadi yang sudah 7 (tujuh) tahun tidak kunjung lulus. Padahal di tahun pertama dan kedua, Sintong adalah Mahasiswa yang berprestasi yang tulisannya bahkan masuk ke Koran Nasional. Lalu ia tidak sengaja menemukan karya seorang penulis legendaris (yang tidak ada dalam buku sejarah dan hanya orang-orang tertentu mengetahuinya) dari Toko buku bajakan yang ia jaga. Sutan Pane nama penulisnya. Yang akhirnya juga diangkat menjadi tema Skripsi oleh Sintong.

Udah, itu aja yang bakal aku kasih tau tentang bocoran cerita dalam buku Selamat Tinggal karya Tereliye. Sisanya aku mau cerita tentang perasaan atau pemikiran-pemikiran ketika aku membaca buku ini. Walaupun secara ijazah aku lulusan Akuntansi dan berjibaku dengan kerjaan Akuntansi. Sesungguhnya aku tidak terlalu melek terhadap berita-berita ekonomi. Apalagi politik. Ah, hal yang pasti kuhindari.

Tapi membaca buku ini membuatku sadar, aku harus melek dengan berita-berita tersebut. Atau dengan kata lain, aku harus lebih banyak belajar. Terkadang kata-kata "Da aku mah apa atuh" memang menjadi kata-kata kesukaanku tapi juga menjadi kata-kata jebakan tersendiri. Jebakan untuk tidak berkembang. Dan sekarang di umurku yang sudah kepala tiga ini membuatku cukup menyesal.

Percuma menyesal jika tidak ada langkah nyata untuk berubah. Dan karena membaca buku ini sampai tuntas, membuatku merasa ada semangat baru untuk melangkah. Walaupun belum jelas jalan mana yang akan aku tuju, setidaknya kali ini aku akan memberanikan diri untuk mulai melangkah dan "Menemukan Jalanku".

Dan bisa bilang, "Selamat Tinggal masa lalu, Maaf dan terimakasih untuk semuanya"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Days Challenge JSR

Ramadhan hari ke-6 : Hal-hal yang Harus Dipikirkan Ketika Hendak Berhutang

Berjarak