Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Dijemput

 Aku menemukan sebuah kalimat di story IG temanku. Ia me-capture salah satu postingan di IG. Anak-anak sekarang sekolah via zoom, jadi ga tau rasanya pulang sekolah lama nunggu ga dijemput-jemput bahkan sampe tinggal sendirian semua murid lainnya udah pada pulang. Yang pernah, pasti inget rasanya (dari akun kusumandaru) Tentu aku bukan anak sekolah via zoom. Secara umur sudah memasuki kepala 3. Tapi aku juga tidak ingat rasanya menunggu jemputan jaman sekolah. Karena memang tidak ada yang menjemput. Orang tuaku atau kakakku hanya memperlihatkan jalan ke sekolah satu kali. Setelah itu, aku berangkat dan pulang sekolah sendiri. Dan itu terjadi sejak aku TK. Kebiasaan ini berlaku ke semua anggota keluarga. Keluargaku mengajarkan untuk mandiri sejak kecil. Aku dulu bagaikan Ibnu Batutah versi lebih alias paling minor pastinya. Aku suka menjelajah jalan-jalan yang belum pernah aku lewati. Sebetulnya aku diberi uang untuk naik angkutan umum, tapi seringnya aku memilih untuk jalan kaki. Perta

Aku, yang (katanya) Mencintaimu dalam Diam

Aku, yang katanya mencintaimu dalam diam Ada hari dimana aku ingin sekali menelpon atau mengirimimu pesan Menanyakan kabarmu Bagaimana harimu? Ada cerita apa hari ini? Sudah makan atau belum? Weekend, apa rencanamu? Sayangnya, hanya sebatas ingin. Aku cukup tahu diri setelah penolakan-penolakan halus yang kamu buat. Aku, bukan tempatmu untuk bercerita. Katanya cinta harus mempunyai pembuktian dalam perbuatan. Aku jadi ragu, apakah aku benar-benar mencintaimu? Pernah terpikir olehku, aku ingin sekali menjadi Jo Yi Seo dalam drama Itaewon Class. Yang membersamai bahkan menjadi kunci untuk mewujudkan impian Park Sae Royi. Jo Yi Seo tidak pernah menyerah walaupun sudah menerima penolakan berkali-kali. Tapi aku ke kamu, aku tidak melakukan itu. Aku masih sibuk dengan diriku sendiri. Tidak ada perbuatan yang menjadi pembuktian cintaku. Apa doaku termasuk dalam perbuatan? Yang kadang (bahkan sering) aku lupakan. Karena, Aku masih sibuk dengan diriku sendiri. Aku jadi ragu, apakah benar aku me

Resign dan Covid

Ini kisah resignku. Sudah 2 tahun terakhir aku sudah ingin mengajukan resign. Alasan klasik, 'ruang' kerja yang tidak berkembang | padahal perusahaan cukup berkembang | skill yang tidak bertambah, terjebak dengan waktu kerja 25 jam | You know what I Mean? | kebijakan-kebijakan yang kurasakan tidak cukup adil bagiku. Angin segar akhirnya berhembus di awal tahun kemaren. Diterima di sebuah perusahaan Global, tentunya jabatan dan pendapatan yang lebih tinggi sudah di depan mata. Softcopy kontrak-pun sudah dikirim via email. Akhirnya aku bisa ber-euforia karena bisa lepas dari perusahaanku sebelumnya. Sebelum Idul fitri kemaren akhirnya aku terakhir bekerja. Sebagian besar orang disana menyayangkan aku resign. Tapi pikirku itu hanya sekedar basa-basi. Bukan, bukan karena mereka tidak peduli atau bermuka dua. Sepertinya itu menjadi hal biasa ketika seseorang resign. Bersimpati. Mereka ga jahat, hanya saja setiap orang akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Akhirnya aku ditam